Friday, 28 March 2014

Masuk Daftar UNESCO, Naskah Babad Diponegoro Dicari Sampai ke Belanda

Bukan sekedar pengakuan dari UNESCO saja, ternyata sejarah Pangeran Diponegoro menjadi pelajaran wajib di sekolah inggris dan angkatan darat Inggris sedang mempelajari teknik perang Pangeran Diponegoro untuk diterapkan di sana.

http://news.detik.com/read/2013/07/03/124443/2291302/10/masuk-daftar-unesco-naskah-babad-diponegoro-dicari-sampai-ke-belanda?nd771104bcj


Masuk Daftar UNESCO, Naskah Babad Diponegoro Dicari Sampai ke Belanda

Jakarta - Bangsa Indonesia patut berbangga! Karya tulis kuno 'Babad Diponegoro' yang ditulis Pangeran Diponegoro dan 'Negara Kertagama' yang digubah Mpu Prapanca, diakui UNESCO sebagai dokumen kolektif dunia (Memory of the World). Tak mudah mendapat pengakuan ini karena naskah aslinya bahkan harus diburu sampai Belanda!

"Ini merupakan sesuatu tindakan kolektif dunia yang patut kita banggakan karena untuk masuk UNESCO itu sangat susah. Harus ada dampak nasional dan internasional dan harus ada keasliannya," kata Kepala Litbang Kementerian Kominfo Aizirman Djusan.

Hal itu disampaikan Aizirman dalam acara penyambutan pengakuan UNESCO di Aula Gedung A lantai 2, Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (3/7/2013). Hadir acara ini mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro.

Pengakuan dunia itu didapat setelah melewati perjuangan panjang. Indonesia melalui Kemendikbud sudah dua kali mengajukan 'Babad Diponegoro' ke UNESCO. Hal itu karena keaslian 'Babad Diponegoro' perlu diteliti dan diverifikasi berulang kali.

Aizirman mengatakan, mantan Mendikbud Wardiman Djojonegoro dibantu Prof Peter Brian Ramsey Carey dari Trinity College, Oxford, Inggris, yang juga adjunct professor Fakultas Ilmu Budaya UI, mencari naskah asli 'Babad Diponegoro' hingga Belanda. Akhirnya naskah 'Babad Diponegoro' berhasil diterima UNESCO sebagai memori kolektif dunia tahun 2012 dan disahkan tahun 2013.

Sementara dalam situs UNESCO, 'Babad Diponegoro' adalah otobiografi pertama dalam sastra Jawa modern dan menunjukkan sensitivitas yang luar biasa atas kondisi dan pengalaman lokal saat itu.

Peter Carey memaparkan 'Babad Diponegoro' adalah otobiografi dan perjalanan hidup Pangeran Diponegoro yang ditulis selama masa pengasingannya di Manado pada 1831-1832. Namun Diponegoro tak menulisnya sendiri, dia menuturkannya kepada seorang juru tulis.

Isi 'Babad Diponegoro' itu, Carey menambahkan, semacam puisi yang tebalnya 1.170 halaman folio. Dalam folio itu ada sejarah nabi, Pulau Jawa dari zaman Majapahit hingga perjanjian Giyanti (Mataram). Yang menarik, otobiografi Diponegoro ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga meski sejatinya menceritakan diri sendiri.

Diponegoro, imbuh Carey, mengibaratkan otobiografinya itu seperti Bahtera Nuh, yang menampung semua budaya Jawa agar bisa diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tujuannya, supaya tidak melupakan jati diri.

"Setelah dia meninggal, naskah ini diambil dan diterjemahkan oleh Belanda. Karena ini bisa menjelaskan pikiran pribumi. Bagi seorang sejarawan, Bapak Diponegoro adalah sumber bagi sejarawan yang sangat berbobot dan menarik," jelas Carey dalam bahasa Indonesia.

SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN RM. DJONET DIPAMENGGALA

Putra-putri
No.     Nama     Tempat/lLahir
1.     RM. NGABEHI DIPAMENGGALA     Jabaru, C-1833
2.     RM. HARJO DIPOMENGGOLO     Jabaru, C-1834
3.     RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I     Jabaru, C-1835
4.     RM. HARJO ABDUL MANAP     Jabaru, C-1836
5.     RM. KH. SAHID ANGKRIH     Jabaru, C-1835
6.     NYI MAS RAy. UKIN     Jabaru, C-1836
7.     NYI MAS RAy. OKAH     Jabaru, C-1837
Cucu

    1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebakpasar, C-1854)
    2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
    2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH
    2.3. RM.H. ABAS
    2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO
    2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN
    3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
    4.1. RM.H. EDOJ
    4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
    4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA
    4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
    5.1. RM. ASMINI
    5.2. RM. IDRIS
    5.3. RM. ONDUNG

Buyut / Cicit

    1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
    1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
    1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (AHMAD, C-1879)
    1.1.4. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1880
    2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
    2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
    2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
    2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
    2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA
    2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
    2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
    2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
    2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
    2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
    2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
    2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
    2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
    2.3.1. RM.H. ARDJA

Saturday, 1 March 2014

Mengerikan di Penjara Pangeran Diponegoro




Mengerikan di Penjara Pangeran Diponegoro

Inilah penjara Pangeran Diponegoro yang sangat pendek atapnya.

Catatan: Tulisan ini telah dibukukan dalam buku Jelajah Negeri Sendiri, penerbit Bentang Pustaka.

Penjara bawah tanah yang terdapat di Museum Fatahillah Jakarta merupakan salah satu saksi sejarah perjuangan Kanjeng Pangeran Diponegoro di Pulau Jawa, dalam upaya mengusir penjajahan Belanda dari bumi nusantara.

Di sinilah Pangeran Diponegoro menjadi tawanan perang selama 32 hari (11 April 1830 sampai 3 Mei 1830).

Dahulu Museum Fatahillah merupakan Gedung Balaikota (Stadhuis). Pembangunannya dimulai tahun 1707 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Joanvan Hoon. Gedung ini selesai pembangunannya tahun 1712.

Saat saya mencoba memasuki penjara tersebut, bulu kuduk saya langsung berdiri. Saya ngeri membayangkan betapa sengsaranya para tahan yang mendekam di dalamnya. Ruang tahanan tersebut sangat sempit luasnya kira-kira 6×6 meter persegi.

Tinggi atapnya kurang dari 150 cm. Meskipun ada jeruji jendela, tetap saja terasa pengap. Dengan atap penjara sependek itu, otomatis saat berada dalam penjara, saya terpaksa berjalan dengan posisi badan membungkuk nyaris 110 derajat!

Baru lima menit berada di sini dalam keadaan membungkuk, pinggang dan punggung saya langsung pegal-pegal. Terpaksalah saya ganti posisi dengan berjongkok. Mungkin beginilah rasanya yang dialami Pangeran Diponegoro saat menjadi tawanan perang. Saya seakan bisa merasakan betapa letihnya Pangeran Diponegoro karena tidak bisa berdiri tegap.

Di lantai penjara terdapat bola-bola batu dengan beragam ukuran, ada yang kecil-kecil dan besar. Bola batu yang amat berat ini disambungkan pada rantai baja yang gunanya untuk mengikat kaki tahanan agar tidak dapat kabur dari penjara.


Ini bola batu yang sangat berat. Ada lubang di atasnya untuk merantai kaki tawanan.

Saya sebenarnya termasuk orang yang penakut. Sudah beberapa kali bolak-balik mengunjungi Museum Fatahillah, baru sekarang saya punya nyali masuk ke penjara bawah tanah tersebut.

Di sisi depan Museum Fatahillah, terdapat sebuah penjara lagi yang kondisinya tidak kalah mengerikan. Mengapa? Sebab penjara bawah tanah yang satu ini kondisinya selalu berair. Dahulu, jika airnya makin kotor makin bagus dengan maksud untuk memberikan efek jera bagi para tawanan. Konon jika tidak kuat maka lama kelamaan penghuni penjara berlantai air kotor dan bau ini akan tewas kedinginan dengan sendirinya.


Penjara bawah tanah yang lantainya sengaja dibiarkan berair.

Mengapa Pangeran Diponegoro diperlakukan sekejam itu oleh pemerintah kolonial Belanda? Pada masanya, Pangeran Diponegoro dianggap sebagai salah satu penjahat perang yang keberadaannya sangat ditakuti oleh tentara Belanda. Dibawah pimpinan Diponegoro, Belanda mengalami banyak kekalahan, 8000 tentara Belanda tewas dalam pertempuran. Oleh karena itu pemerintah Belanda mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menangkap Pangeran Diponegoro. Sebenarnya akibat perang tersebut, sekitar 200.000 orang Jawa juga gugur.

Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan Hamengkubuwono III Kesultanan Yogyakarta ini memiliki kemampuan strategi perang yang sangat modern, hampir mirip dengan strategi perang jaman sekarang. Oleh karena kemampuannya tersebut, seringkali dalam tempo tidak sampai satu hari, setiap wilayah di Pulau Jawa yang telah dikuasai Belanda, mampu direbut kembali oleh Diponegoro dan pasukan pendukungnya.

Jelaslah Diponegoro merupakan ancaman sangat serius bagi kelangsungan kolonisasi Belanda di Pulau Jawa.


Museum Fatahillah yang berlokasi di Kota Tua, Jakarta

Setelah dari Batavia (sekarang Jakarta), akhirnya Pangeran Diponegoro dipindahkan lagi ke Benteng Amsterdam di Manado selama tiga tahun lamanya.

Tahun 1834 Pangeran Diponegoro diasingkan pemerintah Kolonial Belanda ke Benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan dan wafat dalam pengasingan 8 Januari 1855 di usia 89 tahun.

Sampai saat ini, makam Kanjeng Pangeran Diponegoro yang terletak di Jalan Diponegoro, Kelurahan Melayu, Kecamatan Wajo, Makassar-Sulawesi Selatan, selalu ramai dibanjiri pengunjung. (Puri Areta)

Thursday, 27 February 2014

Memang Jodoh by Marah Rusli


dikutip dari :
http://bukuygkubaca.blogspot.com/2014/01/memang-jodoh-by-marah-rusli.html
No.326]
Judul : Memang Jodoh
Penulis : Marah Rusli
Penerbit : Qanita
Cetakan : II, September 2013
Tebal : 536 hlm
ISBN : 978-602-9225-84-6

Marah Rusli (1889-1968), nama sastrawan yang juga disebut sebagai Bapak Roman Modern Indonesia ini sangat dikenal melalui karyanya yang monumental  yaitu novel  Siti Nurbaya (1920). Novel roman ini menjadi salah satu icon sastra Indonesia dan menjadi salah satu bacaan wajib para siswa ketika mempelajari kesuasteraan Indonesia. Saking populernya novel  ini sampai-sampai Siti Nurbaya menjadi idiom yang umum digunanakan masyarakat Indonesia untuk menyatakan pasangan yang dijodohkan orang tuanya secara paksa

Selain Siti Nurbaya karya-karya lainnya yang sudah diterbitkan yaitu La Hami (1952), Anak dan Kemenakan (1956), Gadis yang Malang, terjemahan novel karya Charles Dickens (1922). Selain keempat judul itu ternyata ternyata masih ada karya terakhir Marah Rusli yang masih berupa naskah dan belum pernah diterbitkan yaitu Memang Jodoh

Naskah Memang Jodoh yang merupakan novel autobiografis ini merupakan kado ulang tahun pernikahan ke 50 Marah Rusli dengan  Rd. Ratna Kencana (2 November 1961).  Naskah asli novel ini ditulis dalam huruf Arab Gundul lalu diketik dengan mesin tik manual dan rampung pada 1961.  Naskah ini tersimpan rapih selama puluhan tahun karena memang Marah Rusli sendiri yang mengizinkan naskahnya ini diterbitkan setelah semua tokoh yang ada dalam novelnya inu meningga dunia. Dan untuk itu butuh 50 tahun lamanya sebelum akhirnya di bulan Mei 2013 yang lalu  Memang Jodoh diterbitkan.

 Anak ketiga Marah Rusli, Siti Nur Chairani (85 tahun) dan naskah asli milik ayahnya
[Sumber  foto : http://store.tempo.co]



Seperti  dalam novel Siti Nurbaya, dalam karya terakhirnya ini Marah Rusli kembali menggugat adat Padang dalam hal perjodohan terutama di kalangan kaum bangsawan. Namun kali ini bukan berdasarkan imajinasinya semata tetapi berdasarkan apa yang ia alami sendiri selama 50 tahun pernikahannya dengan istrinya, seorang gadis berdarah bangsawan Sunda.

Seperti dalam kehidupan aslinya dimana Marah Rusli adalah seorang keturunan bangsawan Padang maka dalam dalam novel inipun dikisahkan seorang pemuda keturunan bangsawan bernama Marah Hamli. Di awal novel dikisahkan Hamli yang baru saja lulus dari Sekolah Rakjat di Bukittinggi. Awalnya ayahnya menginginkan Hamli melanjutkan studi-nya ke negeri Belanda namun kepergian Hamli ini tidak diizinkan oleh ibunya  karena khawatir anak semata wayangnya terpikat oleh gadis barat karena sebenarnya Hamli sudah akan dijodohkan dengan gadis Padang yang sepadan dengan dirinya.

Gagal berangkat ke Belanda, Hamli merantau ke Bogor ditemani neneknya. Di sana ia melanjutkan studinya ke sekolah pertanian di Bogor. Sebelum berangkat Hamli menyadari bahwa dirinya menderita sakit 'pilu' yang menyebabkan dia selalu merasa galau dan rindu akan sesuatu yang tidak dimengertinya.

Tadinya Hamli berharap dengan merantau di Bogor maka penyakit pilunya akan sembuh. Namun ternyata  Hamli tidak juga kunjung sembuh hingga akhirnya ia bertemu dengan Din Wati, gadis Priangan berdarah biru yang menawan hatinya dan menyembuhkan penyakit pilu-nya. Hamli sadar bahwa cintanya terhadap Din Wati akan mendapat tantangan dari keluarganya karena hal itu melanggar adat Padang yang tidak mengizinkan pernikahan beda suku.

Namun hal ini tidak menghalangi Hamli untuk menikah dengan gadis pujaannya. Dengan didukung oleh neneknya dan restu dari ayahnya, apalagi setelah diyakinkan dengan dua buah ramalan bahwa perjodohan mereka sudah ditakdirkan oleh Tuhan Hamli nekad memutuskan untuk melanggar adat. Ia  rela "dibuang" oleh kaum keluarganya demi cintanya pada Din Wati. 

Walau kelak Hamli menikah dengan Din Wati, keluarga-nya di Padang tidak menyerah, demi kehormatan keluarga dan untuk mempertahankan adat Padang segala cara diupayakan keluarganya untuk meruntuhkan pernikahan Hamli dengan Din Wati  mulai dari penggunaan ilmu hitam hingga  memaksa Hamli untuk berpoligami, mengambil istri kedua yang berasal dari suku Padang dimana hal itu adalah sebuah kewajaran dan kehormatan bagi bangsawan Padang.


"..lazim laki-laki kita beristri banyak. Bahkan baik; tanda disukai, dihargai, dan dimuliakan orang..." (hlm 337)

Begitu gencanya usaha yang dilakukan kaum keluarga Hamli di Padang untuk tetap menikahkannya dengan gadis Padang ditambah berbagai kesulian dalam rumah tangga  Hamli yang datang silih berganti membuat Hamli bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah  ini akibat dari perbuatannya yang melanggar adat leluhurnya? Sanggupkah Hamli tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak berpoligami dan mempertahankan pernikahannya dengan istri yang yang dicintainya?

Lika-liku kehidupan Hamli dan perjodohannya memang sangat menarik untuk disimak. Di novel ini kita tidak hanya disuguhkan sebuah drama pernikahan Hamli dan Din Wati beserta intrik-intrik yang dilakukan keluarganya untuk menghancurkan pernikahan Hamli  namun kita juga diajak menyelami adat Padang yang begitu keras mengatur perjodohan dan pernikahan yang merupakan hak mutlak orang tua.

"Tetapi di sana, perwakinan itu semata-mata perkara orangtua dan para ninik mamak  yang akan kawin itu serta kaum keluarganya. Anak yang dikawinkan, tak tahu menahu dan tak suka menyuka dalam perkawinannya; melainkan harus menurut dengan buta tuli kermauan orang tuanya, ninik mamaknya, dan kaum keluarganya"

"Keturun bangsawan  tinggi Padang dan menurut aturan Padang dia tak boleh kawin dengan perempuan yang tidak berasal dari Padang. Dan kalau anak itu perempuan lebih sulit lagi. Sedangkan laki-lakinya tidak diizinkan kawin dengan perempuan negeri lain, apalagi perempuannya. Sebab, itu suatu kehinaan yang besar di mata orang Padang" (hlm 155)

Dan bagaimana jika si anak tidak mau menuruti perjodohan yang diatur oleh orang tuanya?

"Anak itu sendiri, tidak boleh membantah, kalau dia tak ingin dibuang dari kaum keluarganya"
(hlm 155)

Mengapa demikian kerasnya orang Padang mengatur hal-hal yang menyangkut perjodohan, rupanya inilah alasannya. ;

"Bagaimana jadinya negeri Padang, jika  telah ditinggalkan oleh anak-anaknya kelak? Siapa yang akan mengurus negeri dan harta pusaka yang tersimpan itu? Siapa yang akan mengerjakan sawah dan ladang yang terbengkalai? Tidakkah semua itu akan jatuh juga ke tangan orang lain apabila tak ada yang mengurus dan memeliharanya? "
(hlm 172-173)

"Akan jadi apakah kelak adat istiadat kita, pusaka nenek moyang kita yang kita pegang teguh sejak semula? Niscaya akan lenyaplah ia dari tanah air kita ini karena disanggah oleh yang muda-muda. Dan dengan lenyapnya itu, akan hilangkah pula bangsa kita;
lebur dalam bangsa campuran"
(hlm 367)


 Marah Rusli & Raden Ratna Kencana bersama 9 dari 11 cucunya (1951-52)
(Sumber foto : Memang Jodoh, Qanita, 2013)

Masih banyak hal menarik dalam novel ini yang bisa kita pelajari, lewat tokoh Hamli penulis menyampaikan kritik yang tajam  terhadap adat Padang yang demikian keras dalam menentukan jodoh bagi kaumnya karena baginya hal tersebut  sudah tidak sesuai dengan jaman yang telah berubah. Selain itu kita juga akan melihat bagaimana Hamli begitu teguh dan keras menentang poligami dengan cara yang santun

Tidak hanya adat Padang di novel ini juga kita melihat bagaimana orang Sunda  juga mengatur perjodohan bagi anak-anaknya walau tidak sekeras orang Padang dan bagaimana orang Sunda yang diwakli oleh Din Wati dan saudara-saudaranya melihat Padang itu sebagai  'tanah seberang', sebuah tempat yang menakutkan bagi perempuan Sunda.

Selain itu karena novel ini berdasarkan apa yang dialami oleh penulisnya maka peristiwa meletusnya Gunung Kelud pada 1919 yang menelan ribuan jiwa itu terekam dalam novel ini karena pada saat itu penulis kebetulan sedang tinggal dan bekerja di Blitar bersama istri dan anak-anaknya. Hanya saja ada perbedaan mengenai jumlah korban jiwa. Wikipedia mencatat letusan Gunung Kelud tahun 1919 menelan 5.160 jiwa, sedangkan novel ini menyebutkan angka yang jauh lebih tinggi.


"Sesungguhnya bencana letusan gunung Kelud ini telah meminta korban nyawa kira-kira 30.000 orang: selain rumah dan harta benda, kebun, dan hewan yang telah punah"
(hlm 434)

Selain pengalaman penulis saat menghadapi bencana alam Gunung Kelud, di bab terakhir sekaligus penutup novel ini dikisahkan pengalaman Hamli saat Belanda dan tentara sekutu melakukan aksi polisionil nya. Di bagian ini tampak jelas kebencian penulis terhadap pasukan NICA yang selalu ditulis dengan "Anjing NICA". Membaca bab penutup novel ini kita akan disuguhkan dengan penjelasan yang detail tentang perjuangan gerilyawan Indonesia dengan pasukan Belanda dimana Hamli ikut berjuang di dalamnya sehingga bab ini terasa lain dibanding bab-bab sebelumnya yang didominasi lika-liku pernikahannya dengan Din Wati. Bagi saya pribadi bab ini menjadi bab antiklimaks dan terasa agak membosankan.

Namun ada satu hal yang menarik yang saya dapatkan di bab terakhir ini adalah tentang nasib anak-anak yang dimanfaatkan oleh tentara Belanda untuk menjadi mata-mata yang nyaris dibunuh oleh para gerilyawan.

"Di sana Hamli melihat beberapa anak kampung yang ditinggalkan oleh tentara gerilya dibawa ke Bumi Jawa untuk dibunuh di sana. Kesalahan anak-anak kecil ini adalah menunjukkan tempat kediaman tentara gerilya kepada Belanda...... Anak-anak ini melakukan pengkhianatan ini karena dibujuk oleh mata-mata Belanda yang banyak sampai ke Pegunungan Selamat dengan sepotong roti, beberapa batang rokok sigaret dan uang beberapa rupiah.

Karena kasihan akan nasib anak-anak yang belum tahu apa-apa ini, Hamli menyarankan supaya anak-anak ini jangan dibunuh, melainkan dididik di Bumi Jawa menjadi mata-mata gerilya melawan Belanda. Pikiran Hamli ini dibenarkan oleh tentara gerilya dan dituruti"
(hlm 522)

Karena seluruh kisah dalam novel ini diangkat dari pengalaman pribadi penulisnya maka kisah tentang anak-anak tersebut bukanlah imajinasi penulisnya melainkan memang fakta yang ada di masa itu. 

Dari semua kisah yang tertuang dalam novel ini tentunya ada banyak hal yang dapat kita ambil dari novel ini. Dengan setting kehidupan dan adat masyarakat Minang di masa lampau novel ini juga dapat menjadi sumber yang berharga ketika kita ingin memahami bagaimana kultur budaya dan adat Minang yang begitu mengikat dan mempengaruhi kehidupan masyarakatnya di masa lampau dan hingga kini masih terasa jejak-jejaknya walau sudah tergerus arus zaman dan waktu.

Walau Novel Memang Jodoh ditulis lebih dari 50 tahun yang lampau dengan cita rasa bahasa dan  kosakata lama termasuk pantun, peribahasa, dan beberapa perumpamaan melayu yang disisipkan dalam novel ini namun novel ini masih sangat nyaman dibaca di masa kini bahkan cita rasa bahasa lamanya lah yang membuat novel ini menjadi begitu sesuai dengan setting kisahnya sehingga kita seakan terlempar ke awal abad ke 20

Dan yang juga menjadi keistimewaan novel ini, seperti yang diungkapkan Seno Gumira Ajidarma dalam endorsment-nya jika biasanya kisah sastra berlatar belakang Minang selalu mengetangahkan konflik antara adat dan agama, tidak demikian dengan novel ini  karena yang dipertentangkan adalah konflik antara adat versus kemerdekaan individual. Perjuangan seorang tokoh yang berjuang membebaskan dirinya dari adat yang membelenggu kebebasan individunya dalam mencari dan memilih pasangan hidupnya.

Akhir kata ada banyak hal yang dapat kita petik dari novel ini, namun yang pasti inilah yang menjadi tujuan utama Marah Rusli menulis Memang Jodoh yang diwakili oleh tokoh Marah Hamli dalam pidatonya kepada anak cucu dan keluarganya di hari ulang tahun pernikahannyya

"Niatku semata-mata ingin mengingatkan kepincangan-kepincangan pelaksanaan adat istiadat, yang tak baik lagi dipertahankan, bahkan seharusnya sudah sejak dulu diperbaiki, diganti, sehingga dapat disesuaikan dengan zaman yang telah beralih dan masa yang telah berubah. Agar mereka selamat di tengah arus pergaulan dunia yang luas seperti  kaum-kaum lain yang lebih dulu maju. Semoga penderitaan dalam rumah tangga kami, menjadi peringatan dan penyuluh dalam perkawinan mereka, yang penuh karunia, rahmat, dan nikmat dari Tuhan.Amin!."
(hlm 20-21)


Monday, 30 September 2013

Wasiat Terakhir Marah Rusli

Marah Roesli dilahirkan di Padang 7 Agustus 1889, ibunya ternyata berdarah jawa merupakan keturunan Sentot Alibasyah, panglima perang pangeran Diponegoro.    Marah Roesli menikah dengan Rd Ratna Kencana, wanita sunda berdarah biru yang merupakan cucu RaY Gondomirah menikah dengan Tumenggung Suriamenggala. Sedangkan RaY Gondomirah sendiri adalah cucu Pangeran Diponegoro

 http://www.sosok.kompasiana.com/2013/07/22/wasiat-terakhir-marah-rusli-575596.html

Naskah “Memang Jodoh,” karya terakhir Marah Rusli, baru boleh diterbitkan setelah seluruh tokoh yang ada dalam buku itu meninggal dunia. Dan itu harus menunggu setelah lebih dari 50 tahun lamanya.
137446247011888173
Rully Roesli sedang menandatangi peluncuran buku Marah Rusli, sang kakek
Suasana teater Salihara pada hari Minggu, 21 Juli 2013, tampak gaduh tidak seperti biasanya. Terdengar suara anak-anak kecil bermain di barisan belakang kursi penonton. Rasanya tidak pas mebawa anak-anak kecil yang belum paham tentang gedung pertunjukan. Tapi saya kemudian maklum, karena mereka adalah anak-anak dari keluarga besar Marah Rusli yang sedang mengadakan perhelatan berupa peluncuran buku karya terkahir kakek buyut mereka.
Ini adalah karya terakhir Marah Rusli yang sempat tersimpan lebih dari 50 tahun lamanya. Karya sastra diterbitkan oleh Qanita, lini penerbitan dari Mizan. Tentu ada cerita menarik, mengapa naskah ini sampai tersimpan begitu lama dan diterbitkan oleh Mizan.
Adalah Rully Roesli, salah seorang cucu Marah Rusli, yang seorang dokter  dan juga seorang penulis buku  “Playing ‘God’ ” yang juga diterbutkan oleh Mizan. Pada suatu hari Rully Roesli  mencoba menawarkan kepada Mizan bahwa dia punya naskah Marah Rusli yang sempat disimpam oleh keluarga selama lebih dari 50 tahun. Wasiat dari sang penulis adalah, bahwa naskah ini baru boleh diterbitkan setelah seluruh tokoh yang ada dalam buku itu meninggal dunia. Dan itu harus menunggu setelah lebih dari 50 tahun lamanya!
Narasi dibalik perjalanan naskah hingga diterbitkan sudah cukup membuat para pembaca menunggu-nunggu karya ini. Apalagi, naskah asli “Memang Jodoh” ini ditulis dalam tulisan Arab Gundul. Jadi tentu memerlukan proses panjang sebelum sampai pada edisi cetak oleh Mizan.
Beberapa catatan ringkasan dari komentar para pembicara yang terdiri dari Rully Roesli, Remy Sylado dan Fira Basuki. Diskusi dimoderatori oleh Anton Kurnia.
Rully Roesli:
Pada awalnya belum ada keputusan kapan nasakah terakhir Marah Rusli ini akan diterbitkan. Tapi keluarga kemudian memutuskan bahwa naskah yang ditulis Marah Rusli bukan milik keluaraga tapi sebagai warisan budaya untuk bangsa Indoensia. Dan ini juga sesuai dengan wasiat dari sang penulis untuk boleh menerbitkan setelah seluruh tookoh yang ada dalam buku itu meninggal dunia.
Menurut Rully, karakter keseharian Marah Rusli adalah sopan dan tidak meledak-ledak. Maka, ketika dia menyampaikan kritik yang tajam sekalipun akan dia lakukan secara sopan, utamanya lewat tulisan. Buku Siti Nurbaya yang legendaris itu, sebenarnya adalah salah satu cara Marah Rusli mendobrak tradisi suku Minang yang tergolong kaku untuk urusan perkawinan.
Dalam buku “Memang Jodoh” ada ditulis sang tokoh utama, Hilmi, yang tak lain adalah Marah Rusli sendiri pergi ke Belanda untuk melanjutkan studi. Pada kisah yang sebanarnya, Marah Rusli, tidak pernah pergi ke Belanda. Buku ini memang semi autobiography dari Marah Rusli sendiri, yang menceritakan perjalanan kisah asmara dengan gadis Sunda bernama Raden Putri Kencana.
Penerbitan buku ini dapat dikatakan sebagai hadiah 50 tahun perkawinan antara Marah Rusli dan Raden Putri Kencana.
Remy Sylado:
Pembaca harus mencoba menarik  mundur 100 tahun kebelakang untuk dapat memahami konteks cerita dan gaya bahasa yang digunakan. Jadi pasti ada jarak antara teks dan seting cerita dengan pembaca.
Menurut Remy Sylado, ini adalah keberanian Mizan untuk menerbitkan buku klasik yang sekarang tidak popular. Tapi bisa penilaian itu salah, karena bisa jadi pasar pembaca buku saat ini sudah jenuh dengan buku-buku yang ada dan merindukan buku klasik semacam ini.
Sebagai buku klasik, pilihan menggunakan paper back untuk cover, menurut Remy Sylado,  kurang tepat. Seharusnya menggunakan hard cover.
Sebagai munsyi atau ahli bahasa, Remy Sylado mengupas buku ini dari kontek bahasa yang digunakan. Dikatakan bahwa Marah Rusli hidup dalam kontek ketika Indonesia mendapat pengaruh yang besar dari Belanda. Bahasa yang digunakan oleh Belanda pada waktu itu adalah Melayu Tinggi. Marah Rusli, sebagai salah satu pelajar yang mendapat didikan Belanda tentu terpengaruh dengan bahasa tersebut.  Dialog yang digunakan dalam buku Marah Rusli akan terdengar janggal, karena memang bahasa yang dipakai bukan bahasa pasar, atau bahasa yang dipakai sehari-hari, melainkan bahasa Melayu Tinggi yang sering dipakai Belanda. Tapi untuk sebuah pentas teater, naskah dialog model Marah Rusli ini akan terasa sangat kuat.
Fira Basuki:
Fira Basuki menanggapi buku ini secara personal, dikaitkan dengan pengalaman pribadinya yang srupa benar dengan cerita pada “Memang Jodoh.”
Fira Basuki yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga berdarah biru dan Kraton Jogja, pernah mengalami problema dalam menentukan jodoh. Tak soal dia pernah kuliah S2 di Amerika Serikat, yang tergolong sudah majudan modern. Ketika menentukan jodoh, maka keluarga besar akan ikut andil bagian. Budaya Jawa sangat kental dengan urusan bibit, bebet, bebet, bobot (garis keturunan, pangkat, kekayaan, penampilan), apalagi untuk golongan berdarah biru.

 

Sunday, 29 September 2013

Haul Pangeran Joned Cikaret dihadiri Penziarah Dari Berbagai Daerah

http://kotabogor.go.id/component/content/article/1-berita-terbaru/9301-haul-pangeran-joned-cikaret-dihadiri-penziarah-dari-berbagai-daerah-
Peringatan Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW dan Haul Pangeran Djonet Dipomenggolo putra dari Pangeran Diponegoro di Kampung Kebon Kalapa Kelurahan Cikaret Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor yang berlangsung, Ahad (1/7/2012) tidak saja di hadiri masyarakat setempat, tetapi juga para keturunan Pangeran Diponegoro dari luar daerah seperti Palembang, Surabaya, Maluku, Makasar dan Papua.

Menurut  juru pelihara makam Pangeran Jonet, Ustad Abdul Wafa yang juga masih keturunannya, kegiatan haul dilaksanakan diawali dengan berziarah bersama kemudian diskusi untuk mengaktifkan organisasi Ikatan Keluarga Diponegoro (Ikadi) agar lebih berkiprah dalam berbagai bidang diantaranya pendidikan, keagamaan, kesehatan dan bidang lainnya.

Salah satunya memberikan bantuan berupa beasiswa kepada keturunan Diponegoro yang dianggap kurang mampu. Bahkan organisasi ini akan mengeluarkan surat pengukuhan kepada para keturunan Dipenogoro dengan sebuah sertifikat.

Hal ini dimaksudkan agar mereka yang benar-benar keturunannya akan merasa aman  jelas asal-usulnya. Pada kesempatan itu juga, terungkap rencana untuk mengadakan haol Pangeran Dipenogoro.

Sekedar informasi Pangeran Djonet  Dipemenggolo, datang ke wilayah Jabaru Pasir Kuda Kota  Bogor, untuk melawan penjajahan Belanda dan syiar Islam bersama pasukannya  setelah sebelumnya   meninggalkan  Makasar dan singgah di Jakarta.

“Di Bogor sendiri mulanya datang  di Kampung  Jabaru Kelurahan Psir Kuda kemudian ke Kampung Dukuh Jawa, serta bermukim di Kebon Kelapa Cibeureum (sekarang Kel. Cikaret –Red) dan meninggal dan disemayamkan di sini bersama istri dan palaputeranya,”ungkap Wafa.



Sedangkan peringatan Isra Mi’raj sendiri dilaksanakan pada malam harinya dengan menampilkan tiga  penceramah tentang hikmah Isra dan Mi’raj  yakni    Habib Husen Al Habsyi Diponegoro, Habil Machdor dan KH. Kholidi dari Bakom Ciawi.

Masih menurut Wafa, sejumlah pejabat dari Pemda Kota dan Pemkab. Bogor akan hadir dalam Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW  tersebut.

Monday, 16 September 2013

Anak anak RAy Gondomirah

RaY Gondomirah yang merupakan anak RM Harjomenggolo cucu Pangeran Jonet Dipomenggolo buyut dari Pangeran Diponegoro menikah dengan Tumenggung Suriadimenggala makam di pasirkuda mempunyai anak anak bernama :
1. RH Ibrahim (Rd Wiradinegara)
2. Nyi Rd Asmaya
3. Nyi Rd Enting Aisyah
4. Nyi Rd Siti Fatimah
5. Nyi Rd Antamirah
6. Rd Candraningrat (Suradiningrat)
7. Rd Y Gandaningrat
8. Rd Indris Tirtadiredja
9. Nyi Rd Rajamirah

kemudian No 9. Nyi Rd Rajamirah makam di Pasir Kuda menikah dengan Rd Kertadiredja memiliki 4 orang anak bernama :
1. Rd Yasin Winatadiredja, punya anak tapi tidak punya keturunan
2. Rd Siti Rahmat (makam pamoyanan wafat 1976) nikah dengan R Husein / wafat 1940 (camat Ciririp/Purwakarta)
3. Rd Tatang Muhtar makam Ciluar
4. Rd Icha Aisyah, di Belanda dari tahun 1935

No 2 Rd Siti Rahmat (makam pamoyanan wafat 1976) nikah dengan R Husein / wafat 1940 (camat Ciririp/Purwakarta)/sekarang Ciririp sudah menjadi bendungan Jatiluhur, memiliki putra 11 :
2.1. Rd.H.A.B. Yogapranatha, bandung, 2000 (Alm)
2.2. Rd. Syafei (Alm)
2.3. Ny. Rd. Tuti, pamoyanan, 1997 (Almh)
2.4. Rd. Hanafi (Alm)
2.5. Rd. Ali M. Ali Widyapranatha, pamoyanan (Alm)
2.6. Ny. Rd. Neneng Kulsum, sukabumi (Almh)
2.7. Ny. Rd. Hj. Iyoh Roswati, pamoyanan 2013 (Almh)
2.8. Rd. U. Effendi Madyaprana, pamoyanan 1986 (Alm)
2.9. Ny. Rd. Siti Sarah, pamoyanan (Almh)
2.10. Rd. H. Usman Satiaprana (Alm)
2.11. Rd. Enen Sutresna Yogaprana (masih ada saat tulisan ini dibuat)




sedangkan dari No 3 Rd Tatang Muhtar makam cilur  menikah dengan Ratu Juriyah binti Tubagus Affandi (makam di cikundul) memiliki 2 orang putri bernama :
3.1. Ny Rd Siti Aminah wafat di sukabumi tahun 1943
3.2. Ny Rd Umriyah wafat pondok cabe 2006

Salah satu cucu RAy Gondomirah bernama Rd Ratna Kencana menikah dengan Marah Roesli penulis cerita "Siti Nurbaya"  (kakek Harry Roesli/seniman) dimakamkan di belakang mesjid pasir kuda/gunung batu, Bogor.