Menurut catatan "Buk Sakawayana", Sunan Amangkurat I Sultan Mataram ke 4 (1646-1677) menikah dengan saudara sepupu Kyai Tanujiwa bersaudara yaitu Raden Apun Pananjung atau Ratu Kulon I, kalau melihat kekerabatan dan tahun kelahirannya tidak tertutup kemungkinan mereka diikut-sertakan sebagai prajurit Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Adipati Ukur yang berangkat pada periode kedua Mei 1629. Kyai Tanujiwa dikalkulasi lahir pada tahun 1615, Kyai Singa Manggala dikalkulasi lahir pada 1612, dan kakak tertuanya Tanduran Sawita dikalkulasi lahir pada tahun 1610, jadi umur mereka pada saat Mataram menyerang Batavia ke 2 adalah Kyai Tanujiwa antara 13-16 tahun, Kyai Singa Manggala antara 17-20 tahun, dan Kyai Perlaya antara 19-22 tahun.
2. Luknan/Letnan Mentangkus, asal Selacau
3. Luknan/Letnan Martawangsa, asal Selacau
4. R Aria Wiranata, putra Dalem Aria Wiratanudatar Tarikolot
Beliau adalah anak dari Dalem Aria Wiratanudatar II atau terkenal dengan Dalem Tarikolot, Cianjur, pada masa pemerintah Dalem Aria Wiratanudatar II, terjadi beberapa kejadian besar di tatar sunda diantaranya :
- terjadinya perang saudara di Banten antara Sultan Abdul Fattah/Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya yang bergelar Sultan Haji
- terjadinya pemberontakan Haji Prawatasari/Raden Alit dari Jampang yang menyebabkan belanda banyak kerugian
- perjanjian baru antara Mataram dan Belanda VOC pada tanggal 5 oktober 1705, pulau jawa bagian barat, dipecah menjadi beberapa bagian, antara lain :
- Batavia
- Kampung Baru (Buitenzorg, Bogor sekarang)
- Cianjur
- Sukabumi
- Jampang
- Kabupaten Bandung, Sumedang, Karawang, Sukapura
- Daerah bekas Cirebon Galuh dan Gebang
Setelah Pajajaran runtag di Pakuan/Bogor oleh Kesultanan Banten, di Bogor tidak ada bupati ataupun wakil pemerintahan dari Banten, seperti Batavia dimana pihak Banten mengangkat bupati/adipati Tubages Angke, Pangeran Jayakerta/Jaketra. Bogor dibiarkan menjadi hutan belantara yang baru dibuka lagi sekitar tahun 1687 oleh Scipio, artinya walaupun pakuan telah diruntuhkan oleh Banten, tetapi Pakuan bukan-lah bawahan dari kesultanan Banten, mungkin hal ini karena penghormatan/rasa sungkan sultan Banten terhadap Prabu Siliwangi yang merupakan masih leluhur Banten juga. Setelah Mataram dikalahkan VOC/Belanda, bogor menjadi bawahan VOC/belanda, Cianjur yang letaknya paling dekat dengan Bogor, dan mempunyai pemerintahan (bupati ) dipercaya untuk membuka hutan yang dahulunya ibukota Pajajaran tersebut, dilihat dari gen bupati Cianjur juga merupakan masih keturunan Prabu Siliwangi juga sang maharaja tatar sunda. Karena yang menjadi Adipati/Bupati Bogor/Kampung Baru adalah anak Aria Wiratanudatar II, otomatis Bogor merupakan bawahan Cianjur saat itu.
5. R Tumenggung Panji
Beliau adalah putra dari R Aria Wiranata, jadi R Tumenggung Panji ini adalah cucu Dalem Aria Wiratanudatar II, Cianjur. R Tumenggung Panji menjadi Bupati Bogor lamanya 5 tahun.
6. R Tumenggung Wiradiredja
Beliau adalah putra R Aria Wiranata, jadi R Tumenggung Wiradiredja adalah cucu Dalem Aria Wiratanudatar II Cianjur, pada masa pemerintahan beliau di wilayah Bogor sudah kedatangan/masuk anak/keturunan Sultan Banten Sultan Abdul Fatah/Sultan Ageng Tirtayasa, yang saat itu terjadi perang di tanah Banten, adapun anak anak Sultan Abdul Fatah ini adalah Pangeran Sake/Sholeh (makam Citeureup), Pangeran Sageri (makam Jatinegara Kaum). Pada masa berikutnya anak R Tumenggung Wiradiredja, yaitu RH Thohir pendiri mesjid empang, merupakan dalem kampung baru yang dimakamkan di empang menikah dengan anak dari Pangeran Sageri bin Sultan Abdul Fath (Ageng Tirtayasa) yaitu Ratu Syarifah. Tumenggung Wiradireja dimakamkan di Sukaraja, faktor ini juga yang membuat ulama besar kelahiran Cianjur KHR Abdullah Bin Nuh dimakamkan di Sukaraja karena beliau juga masih keturunan Dalem Aria Wiratanudatar (Cikundul)
7. R Tumenggung Nataganara, putra Dalem Dicondre, asal Cianjur 26 tahun
8. R Aria Ranggagede di Bogor, asal Sukaraja, 9 tahun
9. R Aria Jayanegara/ Aria Banceuy, putra Dalem Muhidin 5 tahun
Beliau adalah ayahanda dari ulama besar Syekh Yusuf (Baing Yusuf/RH Yusuf) yang dimakamkan di kaum Purwakarta, Syekh Yusuf adalah guru dari ulama besar yang mendunia Syekh Nawawi Albantani, seorang penulis kitab kuning yang dimakamkan di jannatul Mala Mekah. R Aria Jayanegara adalah kakak dari Nyi R Hamsyiah yang merupakan istri dari Adipati Suryalaga II (Dalem Talun, Sumedang), yang juga pernah menjabat jadi bupati Bogor kemudian dipindahkan ke Karawang.
10. R Aria Suryalaga, Talun, Sumedang
Di Pasirkuda yang menuju Pancasan ada jalan "Aria Suryalaga", beliau adalah salah satu adipati/bupati Bogor, yang keturunannya banyak dimakamkan di belakang mesjid AlHuda, Gunung Batu/Pasir Kuda, Bogor
Raden Tumenggung Suryalaga II adalah putra ke 4 dari Dalem RAA. Suryalaga I, Bupati Sumedang ke 10 (1765-1773). Ketika masih anak-anak, namanya ialah Raden Ema dibesarkan bersama-sama Raden Jamoe saudara sepupunya, Dia putra bupati Sumedang ke 9 yang bernama Raden Adipati Surianagara (1761-1765). Pada saat ayahnya RAA. Surialaga I wafat pada tahun 1773, Raden Ema masih berusia 9 tahun,dan Raden Jamoe 11 tahun, kedua-duanya belum cukup dewasa untuk menjadi pengganti Ayahnya menjadi Bupati Sumedang. Baik Raden Jamu maupun Raden Ema harus menunggu dewasa untuk menjadi Bupati Sumedang, akhirnya selama 3 periode masa jabatan Bupati Sumedang dipimpin oleh Bupati Penyelang atas pilihan Belanda.
Pada masa itu ada kebiasaan bahwa yang diangkat sebagai pengganti bupati sesuatu daerah, haruslah keturunan langsung daripada bupati yang sebelumnya, artinya harus keturunan bupati setempat atau keluarga dekatnya. Tentu saja yang dianggap akan setia kepada “pemerintah agung”, yaitu Kompeni Belanda. Kalau calon yang berhak dianggap akan bersikap memusuhi Belanda, biasanya disingkirkan dengan berbagai cara.
Baru kalau dari antara keluarga bupati setempat tidak ada yang layak diangkat sebagai pengganti, dicarilah calon dari tempat lain yaitu yang sudah diketahui kecakapan dan kesetiaannya. Dalam hal ini agaknya Tumenggung Tanubaya dianggap memenuhi syarat itu.
Walaupun dengan perasaan kurang puas, namun keluarga menak Surnedang menerima pengangkatan itu karena memang calon Sumedang yang berhak sendiri masih belum sampai umur. Tetapi ketika dua tahun kemudian Tumenggung Tanubaya berhenti, ternyata yang diangkat bukanlah Jamu yang ketika itu sudah dewasa, melainkan Tumenggung Patrakusumah menantu Tumenggung Tanubaya. Tindakan pemerintah Belanda itu menimbulkan rasa tidak puas di kalangan keluarga menak Sumedang, tetapi juga menimbulkan kecuripan di pihak TumenggungTatrakusumah sendiri.
Suasananya sedemikain rupa, sehingga Jamu menganggap perlu untuk menghindar dari Sumedang. Plot ini telah menyebabkan seorang pengarang Sunda yang terkemuka, Memed Sastrahadiprawira (1897 – 1932) menulis sebuah roman berdasarkan riwayat hidup Jamu, berjudul Pangeran Kornel (1930) yang sudah pula diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Abdul Muis (1948). Di dalam roman itu Memed menampilkan seorang tokoh (yang mungkin) fiktif, yaitu Demang Dongkol, yang dilukiskan sebagai penghasut yang makin rnengeruhkan hubungan antara Jamu dengan Tumenggung Patrakusumah, walaupun yang terakhir itu telah mengambil Jamu sebagai menantu.
Rd. Jamu menjadi Kepala Cutak, Rd. EMA menjadi Juru Tulis Di Cianjur
Jamu melarikan diri ke Malangbong, kemudian ke daerah Cianjur. Di Cianjur dia mendapat perlindungan dan kepercayaan dari Raden Aria Adipati Wiratanudatar VI yang ketika itu menjadi bupati (1776-1813). Bupati Wiratanudatar yang pernah mengenal ayah Jamu, bersimpati kepada anak muda itu. Diberinya pekerjaan di lingkungan kabupaten, dan ketika terbuka lowongan Kepala Cutak Cikalong Wetan, maka ditempatkannya di sana. Jamu pun dinikahkan dengan salah seorang kerabatnya.
Ketika Jamu duduk sebagai Kepala Cutak Cikalong Wetan itulah datang Ema Surialaga, adik sepupunya, yang juga merasa kurang aman hidup di tempat kelahirannya sendiri (Sumedang). Ema pun mendapat simpati bupati Wiratanudatar. Dia diangkat sebagai jurutulis kabupaten, kemudian ketika ada lowongar, diangkat sebagai mantri gudang kopi di Bogor, bahkan kemudian menjadi bupati Bogor, bupati Karawang dan bupati Sukapura. Ema mengundurkan diri dari jabatan terakhir itu atas permintaannya sendiri.
Rd. Ema Suryalaga di Bogor
Pada saat Pangeran Kusumadinata IX / Pangeran Kornel menjadi Bupati Sumedang ke 14 (1791 – 1828), Raden Ema Suryalaga ditunjuk sebagai Mantri Gudang Kopi di Bogor antara tahun 1784-1789(perkebunan Kopi di Bogor terkenal kualitasnya terbaik, berada di daerah Cibalagung, Ciomas). Dalam posisinya sebagai Mantri Gudang Kopi, juga sebagai ningrat keturunan Sumedang Larang, karena usianya sudah cukup matang kedua orang tuanya menikahkan Raden Ema dengan Nyi Raden Hamsyah putri ke 14 dari Dalem Aria Wiratanudatar V / Kyai Muhidin, Bupati Cianjur (), dan menetap di Cibalagung-Bogor.
Belanda memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia ke Buitenzorg pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1810). Dengan sendirinya Buitenzorg disamping dikepalai oleh seorang Bupati juga terdapat Residen, Jaksa dan Gubernur Jenderal. Bupati yang menjabat di Buitenzorg tentunya harus memiliki Qualifikasi yang lebih dibanding daerah lainnya, oleh karena itu mengingat kecakapan dan pengalaman yang dimiliki RTA Suryalaga II cukup menonjol, juga karena sudah menguasai daerah Bogor / Buitenzorg, sekitar tahun 1801 ditunjuk menjadi Bupati Buitenzorg selama lebih kurang 10 tahun (1801-1811).
RTA. Suryalaga II menjadi Bupati Penyelang di Karawang dan Bupati Indramayu(1811-1813)
Pada tahun 1811 Belanda kalah perang dengan Inggris, sehingga wilayah jajahan Belanda beralih kepada Inggris. Begitupun di Jawa, pergantian penguasa penjajah mengakibatkan banyak kebuntuan pada pemerintahan daerah termasuk Karawang. Pada masa gubernur jenderal Thomas Stamford Raffles banyak Bupati yang diganti dan dirotasi, termasuk Karawang.
Pada tahun 1811 Bupati Karawang dijabat oleh Raden Aria Sastradipura sebagai Bupati ke 6, oleh penguasa baru pada tahun 1811 digantikan oleh Raden Adipati Suryalaga II selama 2 tahun (1811-1813).
Dalam waktu yang hampir berbarengan, di Cirebon tepatnya di daerah Tomo (Kadipaten) terjadi kerusuhan yang akhirnya kerusuhan tersebut dapat dipadamkan atas dukungan RT. Suryalaga II yang akhirnya mendapatkan gelar Adipati dan kemudian dipindahkan ke Dermajoe (Indramayu).
RTA. Suryalaga II menjadi Bupati Penyelang di Sukapura (1813-1814)
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles berdasarkan usulan Residen Bogor J.Mc.Quid jeung van Lawick van Pabst di Buitenzorg 31 Desember 1812 :
Bupati Karawang ditunjuk jadi Bupati Sukapura;
Tumenggung Parakanmuncang jadi Bupati Limbangan.
Selanjutnya Raffles mengeluarkan keputusan 16 Pebruari 1813 :
Kabupaten Sukapura didirikan kembali tanpa distrik Suci; Panembong; dan Malangbong. yang menjabat Bupati yaitu Rd. Tumenggung Surialaga II, dengan ibukota di Singaparna
Keturunan RTA. Surialaga II
Mengacu kepada beberapa sumber yang dipercaya (Sejarah Sumedang dari masa ke masa, dan Data dari pihak keluarga/ahli waris), diperkirakan RTA. Surialaga II, menikah dengan 2 orang istri dengan jangka waktu yang berjauhan. Istri yang pertama bernama Nyi Raden Hamsyah (putra no 14 Dalem Aria Wiratanudatar V / Kyai Muhidin, Bupati Cianjur) yang dinikahinya pada saat beliau berusia Dewasa/Mapan antara tahun 1784-1789 dimana pada usia tersebut beliau sedang menjabat sebagai Mantri Gudang Kopi di Bogor, dari pernikahan pertama beliau dikaruniai 2 orang putra yaitu :
Rd. Rangga Tjandramanggala, sebagai Patih yang kemudian menjadi Bupati Bogor tahun (?). Keturunan Rd. Tjandramanggala kebanyakan di Bogor, khususnya di daerah Pasirkuda-Ciomas. Seperti halnya Ayahnya RTA. Soerialaga II dan dirinya yang pernah menjadi Bupati Bogor, putranya yang bernama RTA. Soeriamanggala/RTA. Soeriadimanggala juga pernah menjadi Bupati Bogor, kemudian banyak keturunan Rd Tjandramanggala yang menikah dengan Cucu dan Cicit Raden Mas Djonet Dipomenggolo putra ke 5 Pangeran Diponegoro. Diantara keturunan Rd. Tjandramanggala adalah : Mayjen Purn. Ishak Djuarsa (Ibunya keturunan Diponegoro generasi 4), R. Ratnakancana menikah dengan Pujangga Marah Roesli.
Rd. Hamzah
Pernikahan kedua diperkirakan berlangsung antara tahun 1814-1819 dalam usia 50-55 tahunan, ada kemungkinan isteri keduanya keturunan ningrat Sumedang.
bersambung.....